Kabar Bangkalan

Ibu, Madrasah Kehidupan dan Tonggak Ketahanan Keluarga

Hari Ibu bukan sekadar perayaan, tetapi pengingat bahwa dari rahimnya lahir generasi; dan
dari pelukannya tumbuh peradaban. Seorang ibu adalah madrasah pertama bagi anak. Sebelum
seorang anak mengenal sekolah, guru, atau buk dan lain sebagainya, ia belajar di pangkuan
ibunya—mengenal bahasa pertamanya, nilai moral pertamanya, serta kasih sayang pertamanya.
Allah memuliakan kedudukan seorang ibu dalam Al-Quran: “Dan Kami perintahkan kepada
manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam
keadaan lemah yang bertambah-tambah…” (QS. Luqman: 14) Di ayat lain: “Berbuat baiklah
kepada kedua orang tua…” (QS. An-Nisa’: 36) Rasulullah menegaskan prioritas kemuliaan seorang
ibu: “Siapa yang paling berhak mendapatkan perlakuan baikku?” Beliau menjawab: “Ibumu.”
Ditanya tiga kali — barulah kemudian: “Ayahmu.” (HR. Bukhari dan Muslim) Ini menunjukkan
bahwa pendidikan pertama seorang anak berada di tangan ibu, karena kasih sayangnya membawa
dampak paling kuat. Ibu sebagai Madrasah Kehidupan

Para ulama juga menggambarkan ibu sebagai sekolah dari setiap generasi. Imam Ibnu
Qayyim pernah menyebut bahwa: “Sesungguhnya pendidikan anak kecil adalah tanggung jawab
kedua orang tua, terutama ibunya; karena dialah yang paling lama bersamanya.” Bahkan ungkapan
“Al-ummu madrasatul Ula” (Ibu adalah sekolah Pertama) populer di dunia Islam—sebagai
penegasan bahwa peradaban dimulai dari didikan ibu. Ibu menuntun dengan teladan, bukan hanya
kata-kata. Ia tidak selalu memegang gelar akademik tertinggi, tetapi ketulusannya adalah
universitas kehidupan.

Ibu sebagai Tonggak Ketahanan Keluarga Dalam Islam, keluarga adalah institusi inti umat.
Rasulullah bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai
pertanggungjawaban.” (HR. Bukhari dan Muslim) dan Pemimpin keluarga bukan hanya ayah
namun ibu juga menjadi pemimpin dalam menjaga nilai, menjaga kasih, dan menjaga stabilitas
spiritual. Doanya menjaga rumah dari kegelisahan. Kesabarannya menyatukan hati.
Pengorbanannya mencegah keluarga runtuh. Imam Syafi’i bahkan mengaitkan baiknya keluarga
dengan baiknya ibu: “Tidaklah aku melihat sesuatu yang lebih lembut daripada hati seorang ibu.”
Sementara Umar bin Khattab berkata tentang peran perempuan: “Perempuan adalah tiang sebuah
bangsa; bila baik perempuan, baiklah bangsa itu.” Ungkapan ini selaras dengan gagasan
ketahanan keluarga mulai dari ibu.

Maka menghormati ibu bukan hanya kewajiban anak— tetapi kewajiban masyarakat dan
negara dan ummat Sebab kualitas generasi mendatang sangat ditentukan oleh wanita yang
mendidik mereka hari ini. Jika kita ingin membangun generasi yang berkarakter: mulailah dari
memuliakan ibu dan mengangkat derajatnya ditengah masyarakat. Jika kita ingin membangun
keluarga kuat: jagalah fondasinya—ibu, denggan mencetak generasi calon ibu yang mempunyai
kapasitas Mudarrisah Ula Lil Ummah (guru Pertama bagi umat)

Penutup, Selamat Hari Ibu. Semoga setiap pelukannya menjadi doa, setiap langkahnya
menjadi berkah, dan setiap perjuangannya menjadi jalan bagi masa depan yang lebih baik.

Ummu Hani Tartiela, Lc.

Bidang Perempuan dan Keluarga DPD PKS Bangkalan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *