Kabar Jatim

Kampung PKS Poncosumo, Bukti Nyata Politik Melayani di Tengah Luka Semeru

Di tengah jejak panjang bencana erupsi Gunung Semeru, sebuah kampung kecil di Dusun Poncosumo, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, menjadi saksi bahwa politik bisa hadir dengan wajah kemanusiaan. Kampung itu dikenal warga sebagai Kampung PKS, hunian sementara bagi penyintas banjir lahar dan erupsi Semeru sejak 2021 lalu.

Ketua DPW PKS Jawa Timur, Bagus Prasetia Lelana, menyempatkan diri mengunjungi Kampung PKS Poncosumo pada Selasa (27/1/2026). Kunjungan ini dilakukan di sela perjalanan pulang setelah agenda koordinasi organisasi PKS di Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi yang berlangsung sejak Ahad hingga Selasa (25–27 Januari 2026).

“Alhamdulillah sore ini saya bisa sampai di Kampung PKS. Ini adalah bentuk kontribusi nyata PKS dalam membantu saudara-saudara kita yang menjadi korban banjir lahar dan erupsi Gunung Semeru,” ujar Bagus saat menyapa warga.

Bagus menjelaskan, Kampung PKS dibangun sebagai hunian sementara bagi warga terdampak bencana. Pada awal berdiri, kawasan ini dihuni sekitar 24 kepala keluarga. Seiring waktu, sebagian warga telah berpindah ke hunian tetap yang disediakan pemerintah.

Hingga kini, masih ada sekitar 18 kepala keluarga yang bertahan dan menjadikan Kampung PKS sebagai tempat tinggal.

“Ini bukti bahwa sejak awal bencana, PKS tidak hanya datang saat darurat, tapi juga membersamai warga dalam proses pemulihan. Politik melayani itu hadir di saat rakyat paling membutuhkan,” tegasnya.

Sejarah Kampung PKS tak lepas dari solidaritas dan gotong royong. Relawan PKS Jatim di Lumajang, Iswanto, menuturkan bahwa Kampung PKS berawal dari erupsi besar Semeru pada 2021.

Saat itu, relawan PKS membuka posko di Desa Sumberwuluh dan berinteraksi intens dengan warga setempat.

“Pemilik lahan, Abah Sumani, dengan ikhlas mewakafkan tanahnya yang sebelumnya ditanami tebu. Padahal secara ekonomi itu lahan produktif. Tapi beliau memilih membantu warga yang benar-benar kehilangan rumah,” kata Iswanto.

Tanah wakaf tersebut kemudian dimanfaatkan untuk membangun hunian sementara bagi warga yang rumahnya hancur dan tak lagi layak ditempati, terutama penyintas dari Kampung Renteng, salah satu wilayah terparah terdampak erupsi Semeru. Selain rumah tinggal, kawasan ini juga dilengkapi fasilitas ibadah, akses air bersih, hingga warung kebutuhan harian agar warga bisa hidup lebih layak dan berdaya.

Iswanto menambahkan, meski disebut hunian sementara, lokasi Kampung PKS berada di zona yang dinyatakan aman dari ancaman erupsi.

Hal inilah yang membuat sebagian warga memilih tetap tinggal, termasuk karena pertimbangan jarak kerja dan biaya hidup yang lebih terjangkau dibanding hunian tetap yang lebih jauh.

“Kampung PKS ini dibangun oleh relawan lintas elemen, tapi yang memprakarsai dan mengoordinasikan sejak awal adalah Relawan Kemanusiaan PKS. Ini benar-benar kerja kolektif,” jelasnya.

Bagi Bagus Prasetia Lelana, Kampung PKS Poncosumo adalah pengingat bahwa politik bukan sekadar kontestasi kekuasaan.

“Politik itu soal keberpihakan, soal hadir di tengah luka rakyat. Kampung PKS ini adalah bukti bahwa politik melayani bisa diwujudkan secara nyata,” pungkasnya.

Di lereng Semeru, di tengah sisa-sisa luka bencana, Kampung PKS Poncosumo berdiri sebagai simbol kepedulian, solidaritas, dan harapan, bahwa melayani rakyat bukan sekadar janji, melainkan tindakan yang terus dijaga.{}

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *